harianmetro.id | Langkah Indonesia dalam memperkuat otot pertahanan maritimnya kembali mencatatkan tonggak sejarah baru. Menyusul spekulasi panjang selama beberapa tahun terakhir, Pemerintah Indonesia dilaporkan telah resmi menandatangani kesepakatan pengadaan sistem rudal jelajah supersonik BrahMos dari India.
Kabar besar ini pertama kali dipublikasikan oleh media India, India Today (9/3/2026), yang melaporkan bahwa kesepakatan tersebut telah difinalisasi sebagai bagian dari percepatan modernisasi kekuatan pertahanan Indonesia. Langkah ini secara otomatis menjadikan Indonesia sebagai negara kedua di Asia Tenggara yang mengadopsi sistem persenjataan mematikan ini, mengikuti jejak Filipina yang telah lebih dulu meneken kontrak serupa pada 2022 silam.
Kesepakatan ini tidak hanya sekadar transaksi jual-beli senjata, melainkan sebuah pernyataan strategis di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia dikabarkan akan memprioritaskan penggunaan sistem BrahMos untuk memperkuat baterai pertahanan pesisir (coastal defense).
Juru Bicara Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi bahwa akuisisi rudal hasil kerja sama India dan Rusia ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang dalam memodernisasi alutsista nasional. Kehadiran BrahMos diharapkan mampu menutup celah kerawanan di wilayah-wilayah perairan strategis dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dari segala bentuk pelanggaran kedaulatan.
BrahMos bukan ‘pemain’ baru yang asing di telinga para pengamat militer. Dikembangkan oleh BrahMos Aerospace, rudal ini menyandang predikat sebagai rudal jelajah supersonik tercepat di dunia yang saat ini beroperasi. Kecepatannya yang mencapai Mach 2.8 hingga 3.0 membuatnya hampir mustahil untuk dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional manapun saat ini.
Selain kecepatannya yang mengerikan, BrahMos bekerja dengan prinsip “Fire-and-Forget”. Artinya, setelah diluncurkan, rudal akan mencari targetnya secara mandiri dengan tingkat akurasi yang luar biasa tinggi. Kemampuan sea-skimming—terbang hanya beberapa meter di atas permukaan laut—memungkinkannya menyelinap di bawah radar musuh sebelum menghantam sasaran dengan daya hancur yang masif. (*)






















