METRO,LABURA | DPP Gerakan Masyarakat Pemuda Restorasi (GEMPAR) Kabupaten Labuhanbatu Utara Dan persatuan Wartawan Duta Pena indonesia( PWDPI) Labura menyayangkan aksi arogan dan perbuatan yang dilakukan anggota kelompok tani hutan KPLS Desa Air Hitam Kecamatan Kualuh Leidong Kabupaten Labura terhadap wartawan.
Aksi kekerasan itu bermula saat beberapa wartawan yang juga anggota dari persatuan wartawan duta pena Indonesia (PWDPI) Labura hendak mengkonfirmasi terkait alat berat excavator yang masuk dikawasan hutan lindung berapa waktu yang lalu, Senin (28/07/2025).
Hal ini sangat dikecam keras oleh Ketua DPP Gerakan Masyarakat Pemuda Restorasi(GEMPAR) Kab. Labura melalui Sekretaris Jendral Sulaiman Tanjung SE dan Ketua PWDPI Kab.Labura M Idris
“Sangat disayangkan wartawan yang hendak memalukan konfirmasi terkait adanya alat berat masuk di dalam kawasan kelimpok tani hutan (KPLS) Desa Air Hitam, tiba-tiba dihalangi dengan arogan dan berkata kata kotor. Mereka juga mendorong dan berusah merampas HP wartawan,” katanya.
“Gempar dan PWDPI berharap kepada pihak kepolisian terkusus Polsek Kualuh Hilir agar segera menangkap para oknum tersebut,” tambahnya.
Kasus ini pun sudah dilaporkan sesuai dengan laporan polisi Nomor :LP/B/49/VII/2025/SPKT/SEK KL HILIR/RES-LBH/POLDA SUMUT tanggal 23 Juli 2025.
Ketua Umum Gempar melalui Sekjen, Sulaiman Tanjung bersama Ketua PWDPI
Kabupaten Labura, akan terus pengawalan kasus tersebut sampai terduga para pelaku ditangkap.
“Mereka melakukan konfirmasi bukan di tempat pribadi melainkan di tempat umum dan mereka melaksanakan tugas dilindungi oleh undang undang pers nomer 40 tahun 1999.
“Seharusnya oknum KTH KPLS tau apa tupoksi wartawan ketika wartawan hendak mau konfirmasi, bukan dihalangi dengan arogan dan kata-kata tidak pantas dan mendorong wartawan hingga hpnya terjatuh. Kalau ini tidak ditangani dengan serius Gempar, PWDPI dan wartawan akan turun ke Polsek Kualuh Hilir untuk meminta para pelaku segera ditangkap,” imbaunya.
Hal yang sama juga di ungkapkan Ketua forum pembauran jebangsaan (FPK) Kecamatan Kualuh Leidong melalui Kebangsaan dan Kepala Suku Banjar Samsul Bahri SE, menurutnya sekolompok orang tersebut terlalu arogan.
“Kalau memang alat berat itu tidak melakukan yang dilarang oleh ketentuan, harusnya mereka menjawab pertanyaan wartawan, bukan sebaliknya mengusir dan mengantisipasi wartawan. Saya juga meminta agar para pelaku yang ada di video tersebut segera ditangkap,” ungkapnya.
Sementara, Kapolsek Kualuh hilir AKP Syamsul Bahri Dalimunthe SH MH melalui Kanit Reskrim Ipda S.A Harahap S.Sos saat dikonfirmasi membenarkan bahwa laporan korban sudah diterima.
“Kita sudah menerima laporan dan saat ini masih kita dalami,” katanya. (heri)














