LIPUTAN KHUSUS HARIANMETRO.ID
Emperan jalan, seakan menjadi saksi bisu bagi mereka yang kurang beruntung. Dinginnya cuaca, seakan menjadi selimut tidur mereka setiap malam.
Hidup puluhan tahun di kota Medan, dengan belas kasihan orang lain dan banyaknya penderitaan, juga seakan menjadi hal biasa bagi mereka. Ya.. mereka adalah kaum tunawisma.
Berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah, mungkin suatu hal yang mustahil. Namun, mendapat Makanan dan minum dari belas kasihan orang lain itulah yang selalu mereka harapkan setiap hari.
Bahkan, memiliki cita-cita setinggi langit, seakan hanya impian mereka semata dan harus dikubur dalam-dalam.
Seperti pasangan suami istri yang satu ini. Setiap hari, pasutri ini tidur di emperan jalan Nibung Raya, Medan Petisah. Mirisnya lagi, seorang balita yang masih berusia 5 bulan juga terpaksa harus menemani tidur kedua orangtuanya.
Tak terbayang, kejamnya kehidupan Kota Medan dengan belas kasihan orang lain, tentunya akan menjadi kisah hidup nyata bagi sang balita kelak nanti.
Pertanyaan kita, siapa bilang hidup di Kota Besar seperti Kota Medan akan mendapat perhatian dari pemerintah.
“Apakah Mereka Tau Atau apakah mereka pura-pura tidak tau, Atau apa mereka tidak mau tau?”
Mereka selalu mementingkan diri sendiri, mereka terus berpikir untuk terus membangun tata kota agar lebih indah, cantik dan elegan.
Alhasil, uang puluhan hingga ratusan miliar rupiah, selalu mereka pergunakan untuk proyek-proyek pembangunan kota.
Tapi mereka lupa, keindahan tata kota yang mereka bangun, akan terlihat kumuh dan kotor jika masih ada masyarakat miskin yang disekeliling mereka.
Karena masih banyak rakyat kecil yang sangat perlu diperhatikan, mulai dari kehidupan, tempat tinggal, pendidikan hingga massa depan mereka.
Mirisnya lagi, terkadang masih ada bantuan sosial (bansos) yang diberikan oleh pemerintah dimanfaatkan oleh segelintir orang yang tak bertanggungjawab.
Orang yang mampu dengan fasilitas kendaraan dan rumah mewah, pekerjaan yang menjanjikan, seakan tak perduli antri berjam-jam, saling berdesakan untuk mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, yang hanya beberapa lembar rupiah saja.
Sementara, masyarakat miskin, yang tidak memiliki tempat tinggal, tidak ada pekerjaan dan penghasilan tetap, seakan terlihat “sampah” di mata mereka.
Dimana perasaan mereka yang selalu mementingkan diri sendiri demi keegoisan mereka. TOLONG KAMI ORANG-ORANG MISKIN!




















